Home / Merek / Jalan Panjang Esemka Selama 12 Tahun

Jalan Panjang Esemka Selama 12 Tahun

Perjalanan Esemka yang Penuh Liku

Jauh sebelum diresmikan beberapa hari lalu, Esemka memiliki sejarah berliku dan panjang. Sejarah mobil Esemka berawal pada 2007 silam, di mana kala itu Esemka digagas oleh Sukiyat, seorang pemilik bengkel ‘Kiat Motor’ asal Klaten, Jawa Tengah.

Pria ini membantu anak-anak  jurusan otomotif Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) membuat mobil dengan tujuan utama untuk menstransfer ilmu. Setidaknya ada 9 unit prototipe mobil yang dibuat Sukiyat bersama anak-anak didikannya dengan nama Kiat Esemka.

Mobil rakitan siswa SMK Solo ini berlanjut pada sebuah acara di Kementerian Pendidikan Nasional pada 2009. Mobil Esemka buatan mereka dipamerkan di sana.

mobil esemka walikota joko widodo
Joko Widodo saat menjabat sebagai Walikota Solo

Tiga tahun kemudian nama Esemka makin melambung ketika Joko Widodo menjabat sebagai Wali Kota Solo. Wali Kota fenomenal itu menjadikan Esemka Rajawali sebagai kendaraan dinas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo.

“Pak Walikota tertarik karena bangga dengan produk nasional, khususnya karya anak SMK Surakarta,” kata Kepala Sekola SMK Negeri 2 Surakarta, Susanta, dikutip dari DetikOto, Selasa (3/1/2012).

Permintaan Esemka meningkat kala itu, namun pemasarannya belum bisa masif. Stok mobil juga terbatas, ditambah lagi Esemka memang belum mengantongi izin laik jalan dari Kementerian Perhubungan.

Agar dapat diproduksi massal dan dipasarkan secara masif, Esemka harus  melalui serangkaian tahapan. Beberapa di antaranya uji kelayakan dari Kementerian Perhubungan, mengajukan Tanda Pendaftaran Tipe Kendaraan Bermotor (TPT) ke Kementerian Perindustrian, hingga mendapat investor.

Tidak butuh waktu lama. Esemka Rajawali kemudian melakukan uji emisi dengan menempuh perjalanan Solo-Jakarta pada akhir Februari 2012 silam.

Namun, beberapa hari kemudian, Kementerian Perhubungan menyatakan Esemka Rajawali tidak lulus dalam uji emisi. Setelah itu, nama mobil Esemka timbul-tenggelam selama bertahun-tahun.

Mobil Esemka kembali mencuat pada 2015 lalu setelah Mantan Kepala Badan Intelijen (BIN), Hendropriyono mengambil peran dalam upaya pengembangan Esemka.

Melalui perusahaan miliknya, yaitu PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL), Hendropriyono merangkul PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) dan membentuk entitas bisnis baru bernama PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (PT ACEH) pada tahun 2015. Hal tersebut terjadi setelah kunjungan Jokowi ke Malaysia, terkait kerja sama dengan mobil Proton.

Hendropriyono pun mengatakan mobil nasional Esemka akan meluncur pada 2018 meski kemudian masih simpang siur.

Mobil Esemka malah lebih sering dibawa-bawa ke ranah politik. Meski kemduian, hal tersebut dibantah Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono.

“Hilang lagi itu karena kita harus membuat satu tim yang benar-benar profesional untuk membangkitkan produk itu, jadi nggak hanya tim kecil yang bisa memproduksi satu Esemka saja nah itu yang kita nggak mau,” kata Diaz dikutip dari detikcom, Kamis (18/10/2018).

Kesungguhan untuk produksi massal kembali muncul ke permukaan setelah PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK), pemilik produk Esemka, mengikuti The Automotive Component Industry Expo 2019 di Jakarta pada hari Selasa (14/8/2019).

Event tersebut merupakan kesempatan manajemen PT SMK untuk bertemu langsung dengan pengusaha komponen lokal. Pada pameran itu, PT SMK juga memamerkan komponen mobil pick up Esemka.

Sebagai bentuk komitmen, PT SMK yang diwakili Presiden Direktur Eddy Wirajaya membuat Letter of Intent bersama supplier dari Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), dan Perusahaan Industri Kecil Menengah Komponen Otomotif (PIKKO).

Namun, Eddy saat itu tidak banyak bicara mengenai rencana produksi Esemka dan meminta awak media untuk bersabar. Dengan mengejutkan, Eddy malah menegaskan bahwa Esemka bukanlah mobil nasional.

“Kami bukan mobil nasional, kami mobil yang diproduksi di Indonesia. Jangan salah persepsi mengenai mobil nasional. Cukup luas artinya,” kata Eddy.

Akhirnya, teka-teki tentang produksi massal mobil Esemka terjawab dengan diresmikannya pabrik produksi Esemka, Jumat (6/9/2019) oleh Presiden Jokowi.

Setelah peresmian ini, PT SMK dikabarkan sudah bersiap memulai produksi massal kendaraan. Pada tahun pertama, PT SMK akan memproduksi sebanyak 3.500 unit pick up Bima dengan kapasitas produksi total sebesar 12.000 unit per tahun.

Saat berkunjung ke pabrik Esemka di Boyolali, Jumat (6/9) Presiden Jokowi memuji Esemka yang sudah berani memproduksi mobil sendiri. Ketika ditanya soal mobil nasional  jawabannya malah menggantung.

“Tanya Pak Menperin,” kata Jokowi .

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memberikan bantuan dana untuk produksi Esemka yang pernah ia gunakan jadi mobil dinas saat menjabat sebagai Wali Kota Solo.

“Nggak ada, ini adalah akan lebih baik kalau perusahaan swasta, ya mandiri. Berani berkompetisi. Akan bisa survive kalau punya produksi baik. Tapi memang punya keunggulan ini brand dan principal Indonesia,” ujar Jokowi.

Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) Eddy Wirajaya kembali menegaskan bahwa produknya bukanlah mobil nasional. Kali ini disampaikan oleh Eddy di depan Presiden Jokowi yang sempat datang dan meresmikan pabrik baru Esemka di Boyolali, Jawa Tengah.

“Kami adalah perusahaan swasta nasional yang 100 persen dimiliki swasta dan kami bukan mobil nasional (Mobnas) seperti yang dipahami orang selama ini. Lebih tepatnya mobil buatan Indonesia karya anak bangsa sendiri,” ujar Eddy seperti dikutip dari detikcom.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyebut bahwa Esemka sudah siap untuk diproduksi secara massal. Bahkan, Esemka nantinya tidak hanya akan memproduksi mobil pick up, tetapi juga mobil-mobil berpenumpang layaknya pabrikan mobil lainnya.

Airlangga menyebut, Esemka juga akan memproduksi mobil penumpang double cabin dan minivan. Sebagai produsen otomotif, PT SMK telah memiliki Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) yang telah diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian untuk enam jenis kendaraan roda empat.

“Empat di antaranya merupakan kendaraan komersial tipe pick up single cabin yang diberi nama BIMA – ESEMKA, lalu satu tipe penumpang double cabin yang diberi nama DIGDAYA – ESEMKA dan satu tipe lagi kendaraan penumpang minivan dengan nama BORNEO – ESEMKA,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis.

Pada tahun pertama PT SMK akan memproduksi sebanyak 3.500 unit pick up Bima dengan kapasitas produksi total sebesar 12.000 unit per tahun. Dengan dukungan komponen lokal, Esemka disebut siap untuk melakukan produksi massal kendaraan.

Esemka sendiri dibanderol seharga 95 juta untuk off the road.

About esemkamedia

Mengabarkan berita seputar mobil Esemka. Menyajikan berita aktual, update dan terpercaya. Baca terus web ini dan nantikan berita terbaru setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *